Senin, 03 November 2014

BOOK REVIEW : CRIMINAL JUSTICE IN COMMON LAW SYSTEM

NEGOSIASI PEMBELAAN DI INGGRIS *


Pendekatan Inggris
            Dari seluruh penghukuman baik di Inggris maupun di Amerika, pengakuan bersalah berada antara 80–90 persen. Perbedaannya tidak terletak pada jumlah pengakuan bersalah, tetapi pada cara memberi jaminan kepada mereka. Dalam sistem yang berlaku di Inggris ada perbedaan yang tajam dalam proses pengakuan bersalah yang terjadi antara Pengadilan Mahkota dan Pengadilan Hakim.

Praktek Pengadilan Mahkota
Proses pengadilan mahkota menyerupai pengadilan di Amerika, karena hampir semua terdakwa di depan sidang Pengadilan diwakili dan tingginya pengaruh negosiasi pengakuan bersalah. Namun ada dua perbedaan, pertama ; tawar menawar antara penuntut dan pembela Inggris cenderung berseri dibanding hasil dari manuver dan negosiasi seperti di Amerika. Kedua, permohonan perjanjian di Inggris tidak fokus pada kesepakatan hukuman langsung, karena jaksa secara konvensional tidak mempengaruhi hukuman secara langsung, sebaliknya penurunan tingkat dakwaan menjadi tujuan. Untuk pelanggaran yang berat, di dalamnya terdapat pelanggaran yang lebih rendah, dimana terdakwa dapat memasukan permohonan bersalah, menghindari konsekuensi penghukuman dari tuduhan yang lebih berat. Jika tuduhannya berupa salah satu perbuatan yang menyebabkan luka berat dan dilakukan dengan unsur kesengajaan, terdakwa dapat melakukan pembelaan dengan perbuatan melukai. Demikian pula, mengemudi berbahaya, bisa di adili dengan cepat dapat diringankan dengan menggantikannya dengan tuduhan kelalaian dalam berkendara, mencuri dapat dikurangi menjadi penadahan, dan perbuatan tidak senonoh dapat dikurangi menjadi perbuatan sederhana.

Permohonan negosiasi cenderung terjadi di lorong di luar siang pada hari yang ditetapkan untuk sidang. Hakim pengadilan diberitahu hasilnya di Pengadilan, Jaksa mengusulkan untuk menawarkan hal tidak ada bukti atas tuduhan utama, kadang-kadang diskusi bisa dibawa ke ruang hakim. Pengadilan tidak terikat oleh kesepakatan antara jaksa dan pembela, tapi jika pengadilan menerima permohonan untuk pelanggaran yang lebih rendah hukuman yang dijatuhkan harus sesuai dengan pelanggaran ini, bukan pelanggaran lebih besar yang awalnya di dakwakan. Terdakwa tidak diwajibkan untuk menjawab tuduhan. Secara teoritis  mereka kemudian dapat menjadikan hal ini sebagai dasar gugatan terhadap terdakwa, tetapi hal ini jarang dilakukan.

Terlepas dari fakta bahwa lebih sedikit penundaan dalam proses pengadilan di Inggris, pengaturan permohonan cenderung ditunda-tunda sampai hari pengadilan karena pengacara seringkali tidak mendapat penjelasan hingga sesaat sebelum persidangan. Dalam pandangan ini, pembagian profesi hukum di Inggris menghambat efisiensi peradilan pidana, karena setiap kali acara kasus yang telah di jadwalkan diselesaikan pada hari yang telah ditetapkan persidangan selalunya berjalan mengulur waktu. Sebuah mekanisme penyelesaian kasus kriminal sesuai jadwal yang telah ditetapkan akan mengakibatkan penghematan yang cukup berarti.

Sifat persaudaraan Inggris menciptakan suasana kondusif untuk negosiasi pembelaan. Umumnya ada kewajaran lebih dalam sikap terhadap kasus tertentu, karena kedua belah pihak mempertahankan pengacara. Tawar-menawar pembelaan Inggris telah digambarkan sebagai “sistem  yang saing menguntungkan”. Seperti di Amerika, ada semacam bahaya bahwa pengacara akan menyelesaikan kasus atas dorongan untuk kepentingan mereka sendiri, terutama ketika kasus tersebut tidak  menguntungkan bagi salah satu atau kedua belah pihak. Suvey dari 160 banding yang dilakukan oleh Michael Zander mengungkapkan kurangnya perlakuan oleh pengacara terdakwa dalam memberikan nasihat untuk mengaku bersalah, dan beberapa terdakwa yang disurvei mengatakan mereka akan merekomendasikan jasa dari pengacara yang mewakili mereka.

Selama negosiasi pembelaan, pengacara Inggris sebelumnya telah memiliki lebih banyak bukti kasus yang relevan daripada rekan-rekan mereka di Amerika. Dalam kasus pengadilan mahkota, bukti penuntutan telah disajikan. Bukti tambahan tidak diterima di pengadilan kecuali jika pembela telah memiliki kesempatan sebelum memeriksanya. Demikian halnya,  jika pembelaan bermaksud untuk menyajikan alibi  maka harus memberitahukan lebih dahulu kepada pihak penuntut.

Subyek tawar-menawar dakwaan yang lain antara jaksa dan pembela adalah pelanggaran-pelanggaran yang dapat dipertimbangkan. Secara umur, terdakwa mungkin menawarkan untuk melakukan transaksi kriminal lainnya yang sifatnya serupa ; hukumannya dapat dipertimbangkan juga. Sebuah pelanggaran  ‘T.i.c.’  tidak di golongkan sebagai suatu penghukuman, tetapi merupakan pengakuan bersalah dalam pelanggaran. T.i.c.’ menyediakan polisi dengan solusi untuk kejahatan, mereka menghindari sidang dan bahkan menghindari perlunya mempersiapkan dakwaan formal  kepada terdakwa. Hal ini jelas dari kasus yang dilaporkan bahwa ‘T.i.c.’  dapat menjadi subjek negosiasi pembelaan. Tapi sejauh mana hal ini terjadi, seperti begitu banyak pertanyaan dalam praktek pengakuan bersalah, tetap bersifat spekulatif.

Pengakuan Bersalah Dalam Pengadilan Hakim
            Terdakwa yang diwakili. Apakah pengacara terdakwa sengaja atau tidak sengaja untuk menghubungi jaksa dengan  maksud untuk menuju permohonan negosiasi, strategi dasar dalam representasi pembelaan tak bersalah di  Inggris terletak di dalam menjaga sidang perkara di tingkat pengadilan hakim. Hanya beberapa tindak pidana yang dapat di tuntut dan yang tidak dihukum dengan cepat (misalnya, pembunuhan, pemerkosaan dan pencurian yang memberatkan). Semua pelanggaran yang dapat dihukum lainnya dapat diringkaskan dengan persetujuan terdakwa dan  pihak penuntut. Pada kebanyakan kasus, pembela dapat berhasil mempertahankan kasus pada  pada tingkat pengadilan magisrate melalui persetujuan terdakwa untuk pemeriksaan pengadilan yang cepat. Hanya 13 persen dari semua terdakwa berjalan pengadilan magistrates atas suatu pelanggaran dapat dituntut pada tahun 1971 telah berkomitmen untuk diadili di hadapan pengadilan yang lebih tinggi. Tujuan pembela  untuk mempercepat proses pengadilan adalah untuk membatasi hukuman yang mungkin dapat di jatuhkan kepada terdakwa. Terlepas dari batas-batas hukum dari suatu pelanggaran  dimana terdakwa yang divonis bersalah, kekuatan hukuman dari para hakim  terbatas (dalam kasus tindak pidana yang dapat di adili dengan cepat)  pada pengenaan pada dua istilah enam bulan berturut–turut untuk dua pelanggaran terpisah. Lebih penting lagi, disposisi kasus di tingkat hakim menjamin diskon hukuman secara de-facto untuk terdakwa. Untuk setiap pelanggaran yang diberikan, terdakwa kemungkinan akan menerima hukuman jauh lebih ringan di pengadilan magistrates daripada di pengadilan mahkota. Dalam kasus pelaku pertama ada keuntungan lebih dari sebuah perlakuan ringkas (sumir) . Kecuali  untuk hukuman atas kekerasan kepada seseorang, hakim tidak boleh memenjarakan pelanggar pertama kecuali hakim  menyatakan terdakwa untuk diproses ke pengadilan mahkota. Risiko menjatuhkan hukuman bahkan lebih rendah daripada berkomitmen untuk        di adili. Pada tahun 1971,  hanya empat persen dari semua terdakwa yang dihukum atas  pelanggaran dapat dituntut di pengadilan hakim di tingkat pengadilan yang lebih tinggi. Demikian juga di dalam kepentingan penuntutan untuk menjaga kasus di tingkat pengadilan hakim. Biaya dan kompleksitas kasus yang di hadapi sebelum sampai ke pengadilan mahkota di hindari dan kemungkinan hukuman meningkat secara substansial jika kasus terdengar sebelum di tangani di pengadilan hakim. Tingkat pembebasan dari kasus yang diperebutkan sebelum di masukkan ke pengadilan mahkota telah diamati sekitar 43 persen. Sedangkan tingkat pembebasan dari kasus yang diperebutkan sebelum  tiba di pengadilan hakim dapat diperkirakan antara 7 dan 14 persen. Dengan demikian kita melihat bahwa hanya sebagai strategi pembelaan dalam representasi pembelaan tak bersalah yang menjaga kasus di tingkat pengadilan hakim, seringkali strategi pembelaan dari kasus yang diperebutkan adalah untuk meningkatkan kasus tersebut ke tingkat pengadilan mahkota untuk mengambil keuntungan dari kehadiran juri dan kemungkinan pembebasan yang lebih besar.

Jika pengacara terdakwa lebih lanjut ingin mengurangi resiko terdakwa dipenjarakan, beberapa waktu sebelum hakim sidang, ia akan menghubungi polisi atau jaksa penuntut yang bertanggung jawab atas kasus untuk menuju negosiasi pembelaan. Prosedur umum adalah seperti yang sudah dinyatakan untuk pengadilan mahkota.

Salah satu kelemahan dari pembela dalam negosiasi permohonan pembelaan  di tingkat pengadilan hakim adalah bahwa bukti–bukti yang diajukan oleh pihak penuntut belum diperiksa secara umum. Terdakwa tidak berhak untuk melihat informasi sebelum hukuman dijatuhkan, dan  hak–hak terdakwa untuk diperhatikan adalah terbatas pada hal khusus yang mungkin diperlukan untuk memberikan informasi yang memadai atas sifat tuduhan (dakwaan). Kadang-kadang ada pertukaran bukti jika pengacara terdakwa mendapat kemurahan hati dari jaksa penuntut, tetapi umumnya tawar-menawar pembelaan harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Kadang-kadang petugas hakim diberitahu tentang persetujuan permohonan antara jaksa dan pembela, tapi hakim itu sendiri tidak menerima pemberitahuan terlebih dahulu. Hal ini  bergantung pada kuasa oleh seorang hakim. Menurut Dr E. Anthony, bahwa polisi menggunakan hakim hanya untuk mengesahkan sebuah  hukuman yang belum dibuat tanpa membiarkan pengadilan memiliki kekuatan ajudikasi. Namun, hal itu nampaknya hanya muncul dari pengamatan saya sendiri  terhadap hakim pengadilan Cambridge bahwa hakim sering menyadari seperti apa proses penyelesaian kasus, dan setuju di dalamnya. Saat terdakwa muncul sebelum hakim diwakili oleh pengacara , dan pihak penuntut tidak mampu menunjukkan bukti pada beberapa hal  tertentu dari apa yang di dakwakan (dituduhkan), ini adalah isyarat yang cukup jelas bahwa telah tercapai persetujuan permohonan pembelaan . Dalam banyak hal, Dr E. Anthony memang benar, karena hakim memiliki sedikit kontrol atas proses penyelesaian yang berlangsung sebelum kasus mencapai ruang sidang. Baik kesepakatan pembelaan maupun fakta keberadaannya disebutkan di sidang pengadilan.

Terdakwa tak terwakili. Hanya sekitar setengah dari terdakwa yang di proses sebelum sampai ke pengadilan hakim yang di beri perwakilan secara professional. Tak adanya pembela yang mengetahui urutan proses dalam suatu penunututan tindak pidana kriminal dan juga memahami aturan informal praktik lokal memiliki pengaruh besar pada cara di dalam pelaksanaan proses pembelaan bersalah. Salah satu aspek yang paling menarik dari bantuan hukum di Inggris adalah bahwa terdakwa biasanya harus membawa kasusnya maju ke titik dimana ia terbukti tidak bersalah di hadapan pengadilan hakim sebelum memperoleh bantuan hukum. Jika seorang terdakwa tidak terwakili mengaku tidak bersalah, persidangan sering ditunda sehingga terdakwa dapat mengajukan permohonan bantuan hukum. Aplikasi seperti itu biasanya di jamin. Namun, jika terdakwa tak terwakili itu mengaku bersalah di depan hakim, dan kemudian memperoleh bantuan hukum sebelum dijatuhi hukuman, ia biasanya ditolak. Hanya sekitar 10 persen dari terdakwa yang diwakili pada penampilan pertama mereka di hadapan hakim. Sidang pertama  ini  mungkin akan atau tidak  berlangsung  di luar pertanyaan tentang jaminan untuk pembacaan tuduhan dan pembelaan terdakwa, tergantung pada apakah penuntutan telah siap untuk mengadili perkara tersebut. Mrs Dell menemukan bahwa ketika sidang telah berjalan hingga ke titik pembelaan dari terdakwa, hanya 14 persen dari terdakwa yang mengaku bersalah diwakili. Di antara terdakwa yang mengaku tidak bersalah, 50 persen akhirnya memperoleh bantuan hukum. Mrs Dell tidak membagi terdakwa diwakili yang mengaku tidak bersalah kedalam mereka yang diwakili ketika mereka pertama kali masuk dalam pembelaan  mereka dan mereka yang pada awalnya tidak diwakili tetapi kemudian diberikan bantuan hukum untuk di adili  untuk mempercepat pengadilan mereka atau proses berkomitmen. Tapi dari dua analisis lainnya yang disajikan oleh Mrs Dell,  efek substansial representasi sebelumnya atas pembelaan terdakwa dapat dilihat. Dari 106 terdakwa dalam penelitian Holloway, yang menyangkal telah bersalah saat di wawancarai, 78 tidak punya bantuan hukum sebelum masuk permohonan mereka. Dari kelompok ini, dua-pertiga telah masuk permohonan bersalah. Dari 22 terdakwa yang pernah memohon bantuan pengacara sebelum meminta pembelaan, hanya tiga yang masuk permohonan bersalah yang diwakili. Dalam sebuah survei terpisah terhadap terdakwa yang tampil di depan hakim pengadilan London. Mrs Dell menemukan bahwa 60 persen dari terdakwa yang diwakili dibandingkan dengan 6 persen dari terdakwa yang tidak terwakili menjawab tidak bersalah. Dari hal di atas dapat disimpulkan bahwa permohonan memiliki pengaruh pada representasi, karena terdakwa yang mengaku tidak bersalah lebih mungkin untuk diberikan bantuan, dan representasi tersebut memiliki efek pada pembelaan, karena terdakwa dengan bantuan lebih mungkin untuk mengaku tidak bersalah.

Terdakwa yang muncul di depan hakim tanpa terwakili sangat tak berdaya. Dia tidak tahu apa yang diharapkan, juga tidak sepenuhnya peduli pada pentingnya apa yang terjadi. Ia akan berdiri saat hakim masuk, namun ia tidak di sambut oleh mereka, tetapi oleh seseorang yang duduk di bawah dan di depan mereka (panitera hakim).  Terdakwa sering tidak menaruh perhatian penuh pada semua yang dikatakan, dan jarang mereka memotong  proses pengadilan untuk  meminta pengulangan atas kata-kata yang kurang terdengar atau yang artinya tidak dipahami. Kebanyakan terdakwa berpendidikan rendah, takut serta tidak mampu untuk mengekspresikan diri dalam bahasa yang mereka yakini di harapkan di pengadilan. Dengan partisipasi aktif yang sedikit dari terdakwa, hakim sidang dapat melanjutkan proses pengadilan tahap demi tahap dengan lebih cepat. Dibagian  penutupan, setelah terdakwa telah mengaku bersalah atau dihukum, dia biasanya ditanyai ; “apakah Anda punya sesuatu yang ingin dikatakan ?” Di titik kritis ini, ketika keadaan mitigasi harus diletakkan sebelum pengadilan, terdakwa sering sepertinya berpikir bahwa respon yang diharapkan adalah pernyataan singkat seperti saya menyesal. Beberapa terdakwa di dorong untuk berbicara tentang keadaan hidup mereka atau kejahatan yang telah  mereka lakukan. Banyak terdakwa hanya ingin cepat selesai dan yang di izinkan atau di dorong untuk melakukannya oleh polisi dan pengadilan. Seluruh penangkapan untuk proses penghukuman dapat berlangsung dalam 24 jam. Terdakwa memiliki hak mendapatkan jaminan di depan hakim dalam waktu 24 jam setelah penangkapan, dan seringkali jika polisi telah mendapatkan pernyataan dari terdakwa sebelum mereka bisa mendapatkan keyakinan pengakuan bersalah di dalam satu kali hakim bersidang. Fakta bahwa banyak terdakwa di Inggris yang mengaku bersalah yang tidak terwakili berarti bahwa ada sedikit ajudikasi nyata dalam proses pengakuan bersalah. Ideologi umum hukum mengandaikan sebuah proses musuh, dengan masing-masing  menyajikan kasusnya di depan hakim yang lebih merupakan Arbiter daripada  peserta aktif dalam proses tersebut. Dalam banyak hal, terdakwa bertanggung jawab untuk bergerak secara aktif guna membela dirinya sendiri. Dibutuhkan kehendak kuat dari terdakwa untuk membuat proses pencarian kebenaran bekerja. Jika terdakwa  menyerah dan sepakat dengan penghukuman, maka  hanya akan ada sedikit  penyelidikan atas fakta-fakta kejahatan.
Untuk beberapa hal polisi merundingkan pengakuan bersalah dengan terdakwa. Komisi Royal 1962 tentang Kepolisian menerima bukti yang diajukan oleh Masyarakat Hukum dan Asosiasi Nasional Pejabat Percobaan yang kadang-kadang polisi menyarankan terdakwa untuk mengaku bersalah, atau menawarkan untuk memberikan kata-kata yang  baik di depan hakim, atau sebaliknya menyarankan kelonggaran jika bekerjasama dengan pihak berwenang. Dalam Mrs Dell 56 “Inconsistent Pleaders” (yang  awalnya mengaku bersalah tetapi kemudian menyangkal tidak bersalah), 17 orang mengatakan bahwa pengakuan bersalah mereka adalah hasil dari nasihat atau tekanan polisi, 8 orang mengatakan tidak ada gunanya membela kasus di mana itu hanya kata-kata saya versus polisi, 5 orang mengatakan mereka mengadakan permohonan untuk menghindari penyerahan kembali, dan lain 5 orang lainnya mengaku bersalah karena ketakutan akan hukuman yang lebih keras setelah sidang. Seringkali saran tersebut diberikan dalam nasehat, dan tekanan untuk bekerja sama lebih halus dari mengancam. Cara penelitian terhadap penyelidikan polisi menunjukkan tingkat informal yang tinggi antara polisi dan terdakwa, dan banyak dialog di antara mereka. Di mana terdakwa tidak diwakili dan memiliki pertanyaan tentang apa yang akan terjadi di pengadilan, atau apa yang  mungkin akan menjadi konsekuensi dari pembelaan, itu adalah wajar bahwa ia mengajukan  pertanyaan itu  ke polisi, terutama ketika ia bekerja sama dengan mereka. Tidak mengherankan bahwa polisi harus memberikan petunjuk keringanan hukuman yang akan mengikuti pembelaan bersalah, karena ini adalah apa yang umumnya terjadi. Ini mungkin tampak adil  hanya bagi petugas dan terdakwa harus tahu ini. Juga wajar bagi polisi untuk menyarankan terdakwa untuk mengaku bersalah, karena mereka merasa bahwa bukti yang cukup untuk menjatuhkan tuduhan telah cukup meyakinkan. Polisi cenderung lebih tertarik dalam memecahkan kejahatan daripada menjalankan tantangan hukum untuk meyakinkan. Sumber daya penyelidikan mereka terbatas, dan pengakuan bersalah disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Bahkan lebih cocok dengan kebutuhan penyelidikan polisi adalah tindak pidana ‘T.i.c’. Di sini cukup jelas bahwa inisiatif ini umumnya diambil oleh polisi. Seringkali terdakwa  memberi bentuk tanda-tanda sebelum muncul di pengadilan hakim. Jadi ketika panitera mencatat bahwa terdakwa meminta agar pelanggaran tertentu dipertimbangkan itu sangat sukar untuk diproses cepat.

Daripada mengandalkan negosiasi untuk menghasilkan persentase yang tinggi dari pengakuan bersalah, penuntutan Inggris umumnya lebih bergantung pada apa yang dapat dicirikan sebagai kekalahan terdakwa. Terdakwa yang menggugat kasusnya harus bersedia mengambil risiko penyerahan kembali ke penjara yang mungkin mengorbankan pekerjaannya, beban memberikan kontribusi bagi biaya pembelaan dan hukuman keras setelah sidang. Dia harus bersedia untuk mengalami kecemasan menunggu persidangan, ketegangan keluarganya dan meneruskan  hubungan yang tidak menyenangkan dengan polisi. Dan dalam rata-rata kasus terdakwa Inggris seterusnya harus berjuang sendiri hingga titik memasuki pembelaan tidak bersalah di pengadilan hakim sebelum ia diberikan bantuan hukum. Seringkali hasil dari tekanan tersebut adalah sindrom “cepat selesai”. Terdakwa membuat pernyataan kepada polisi dan mengaku bersalah untuk menghapuskan tekanan itu. Hal ini terutama terjadi di mana terdakwa kemungkinan akan menerima hukuman. Untuk mempertahankan kasusnya terdakwa harus bersedia untuk menjalani interogasi berat selama berjam-jam. Hingga di mana polisi melanggar aturan hakim menjadi problematis. Untuk tujuan ini kami akan menganggap mereka tidak melakukan itu. Namun, terdakwa hanya seorang diri melawan interogator–interogator berpengalaman. Dia mungkin tidak menyadari bahwa ia hanya membantu polisi dengan penyelidikan mereka dan bebas untuk meninggalkan setiap saat. Bahkan jika ia meminta izin untuk menelepon pengacara, sering polisi menolak. Dari saat terdakwa tiba di kantor polisi ia berhadapan dengan pertanyaan apakah dia akan atau tidak bekerja sama dengan pihak yang berwenang. Banyak tekanan yang di dapatkannya, yang lain secara halus diterapkan oleh interogator, tapi dari pesan awal jelas ; ‘hal-hal yang akan lebih baik untuk Anda jika Anda bekerja sama dengan kami’.

Paling penting dalam pikiran terdakwa adalah dorongan untuk bebas, keinginan untuk melepaskan diri dari situasi yang tidak nyaman. Beberapa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang dari keputusan untuk membuat pernyataan kepada polisi. Ini adalah harapan atau janji yang  muncul yang menyebabkan terdakwa untuk bekerja sama. “Kerjasama” dapat berarti baik pernyataan terdakwa atau pun pengakuan bersalah. Polisi biasanya memusatkan perhatiannya dalam usaha mendapatkan sebuah pernyataan, tetapi untuk tujuan bagian ini sebuah pernyataan dan pengakuan bersalah diperlakukan sebagai kesamaan fungsional, karena pengakuan bersalah biasanya mengikuti pengambilan pernyataan. Sejauh manakah polisi menggunakan kekuatan jaminan dari mereka untuk mengamankan pengakuan bersalah ? Pengadilan banding membuat catatan hukum  dari praktek “tawar-menawar jaminan” dalam Rv Northam. Sebagai contoh adalah  ketika petugas menyatakan kepada  terdakwa : jika Anda ceritakan tentang hal ini Anda dapat memiliki jaminan”. Sejauh mana tawar-menawar  jaminan terjadi belum pernah di dokumentasikan. Namun, ada dua poin yang cukup jelas. Pertama, polisi secara rutin meminta penyerahan kembali dalam tahanan dalam rangka untuk menerapkan tekanan hukuman terhadap terdakwa. Sekitar setengah dari semua terdakwa diserahkan dalam tahanan sebelum sidang tidak kembali ke tahanan setelah penghukuman. Kedua, ada hubungan antara penyerahan ke dalam tahanan dan  pengakuan bersalah. Bottomley Keith dalam “Prison Before Trial”, dalam analisanya  mengenai committals untuk sidang, menemukan bahwa dari kelompok yang ditahan,  61 persen mengaku bersalah, sedangkan kelompok yang dilakukan dengan jaminan hanya 36 persen mengaku bersalah. Alasan untuk perbedaan ini tidak dapat sepenuhnya dibahas di sini, tetapi layak untuk di katakan bahwa kesamaan hukum dari dua kelompok itu ditunjukkan oleh fakta bahwa para terdakwa sama–sama tetap melakukan permohonan tidak bersalah tingkat pembebasan hampir sama (46 persen dan 43 persen, masing-masing). Kerugian terbesar yang di derita oleh terdakwa  yang diserahkan dalam tahanan adalah bahwa ia sering kehilangan pekerjaannya. Ia kehilangan kedua sumber daya ekonomi yang mungkin ia butuhkan untuk  memperjuangkan kasusnya dan stabilitas yang akan membuatnya risiko percobaan yang lebih baik buatnya. Jika terdakwa tidak berusaha untuk mempersiapkan suatu pembelaan dari penjara, dia dihadapkan dengan kesulitan besar. Diantaranya adalah ketidakmampuan untuk berkomunikasi secara bebas dengan pengacara dan ketidakmampuan untuk mencari saksi atas namanya. Hasil akhir dari semua tekanan, bujukan dan cacat ini  adalah bahwa apakah terdakwa bersalah atau tidak  atas tuduhan itu, ia merasa ia tidak bisa melawan. Dia menyerah dan memasuki  pengakuan bersalah.

Dalam sistem Inggris ada penggabungan kekuasaan cukup besar  di  tangan polisi. Mereka menginterogasi tersangka, mengumpulkan bukti, membuat keputusan tentang apakah akan menjatuhkan tuduhan dan sering melakukan penuntutan sebelum pengadilan. Karena sifat kekuasaan mereka yang relatif  tidak terkendali ada resiko tinggi bahwa itu dapat digunakan untuk mengalahkan terdakwa ketimbang menghukum mereka dengan benar. Tekanan dan praktek jaminan polisi  di Amerika di akui  lebih kasar. Tapi karena hampir semua terdakwa mendapatkan keterwakilan minimal, proses pengakuan bersalah cenderung lebih mengandalkan tawar-menawar pembelaan daripada kekalahan terdakwa seperti di Inggris. Orang mungkin akan yakin bahwa sebagian besar terdakwa di Inggris dan Amerika yang mengaku bersalah pada kenyataannya bersalah sesuatu. Namun, semakin ada perasaan dalam masyarakat hukum Anglo-Amerika yang menginginkan harus ada penelitian lebih dalam memastikan keakuratan keyakinan dan bahwa harus ada tingkat kontrol peradilan  yang lebih tinggi  di dalam proses  menjamin pengakuan bersalah.


PEMBELA TIDAK KONSISTEN


            Dari 527 perempuan yang di adili di pengadilan hakim, 106 membantah telah melakukan pelanggaran apapun ketika mereka di wawancarai. Dari 106 perempuan, lima puluh enam (53 persen) mengaku bersalah, empat puluh tujuh (44 persen) mengaku tidak bersalah, dan tiga pembelaan, tidak diketahui. Untuk kenyamanan, mereka lima puluh enam perempuan yang mengaku bersalah disebut sebagai pemohon tidak konsisten.

            Lebih separuh dari mereka yang mengaku tidak bersalah harus mengaku bersalah di depan  hakim itu tampaknya temuan yang mengejutkan. Berapa banyak ketergantungan bisa dipasang dalam pertimbangan perempuan ? Pewawancara tidak memiliki alasan untuk percaya bahwa mereka yang menyangkal bersalah namun mengaku bersalah adalah kurang dapat diandalkan kata-katanya daripada mereka yang menyangkal bersalah dan mengaku tidak bersalah, tetapi dalam kasus tidak ada di sana, sebagai suatu peraturan, setiap cara untuk memeriksa keadaan adanya pelanggaran atas hukum. Meskipun demikian, tampaknya layak melihat serius pada kenyataan bahwa banyak dari mereka yang bertahan tidak bersalah, namun mengaku bersalah, untuk apa yang perempuan–perempuan ini katakan adalah konsisten dengan bukti-bukti dari sumber lain, dan beberapa orang yang telah bekerja di pengadilan atau dengan pelaku pelanggaran  akan terbiasa dengan kasus semacam ini.

            Kritik tertentu yang dibuat oleh beberapa wanita kepada polisi  berkaitan dengan subjek ini, dan itu tidak mudah untuk memutuskan cara terbaik untuk menangani kasus ini. Sebagai tahanan telah dijamin bahwa wawancara akan dijaga kerahasiaanya, sulit mendekati polisi untuk memperoleh informasi dalam kasus ini tanpa mengungkapkan apa yang telah dituduhkan. Tanpa pemeriksaan, kebenaran dari apa yang di katakan oleh wanita tersebut hanya terdapat dua alternatif : satu, adalah untuk menghilangkan semua bahan yang berkaitan yang tidak baik menurut polisi, yang lain adalah untuk melaporkannya, sambil menunjuk bahwa informasi itu berasal dari hanya salah satu dari dua pihak yang berkepentingan. Meskipun keberatan jelas, itu dianggap benar untuk mengikuti. Kedua, subjek tampak terlalu penting untuk dihilangkan, dan keberatan  juga diberikan  atas fakta bahwa tuduhan serupa  telah dibuat oleh sejumlah perempuan, dan bahwa orang lain telah menarik perhatian untuk masalah yang sama. Namun demikian, harus ditekankan bahwa apabila diberikan kutipan dari apa yang dikatakan perempuan atas perilaku polisi, itu hanyalah satu sisi dari cerita yang tersedia untuk dikutip.

            Apa yang membuat orang mengaku bersalah membantah mereka telah membuat pelanggaran ? Lima puluh enam wanita yang melakukan ini, atau mengatakan akan melakukannya, sembilan di wawancarai sebelum mereka mengaku, memberi berbagai alasan ; tujuh belas mengatakan bahwa mereka mengaku bersalah menuruti saran atau  tekanan polisi ; delapan, termasuk beberapa dituduh mengajak, mengatakan bahwa tidak ada gunanya membela suatu kasus di mana itu hanyalah silat lidah “kata-kata saya versus polisi’; lima wanita mengatakan mereka telah mengaku bersalah untuk menghindari diserahkan ke tahanan, dan lima telah melakukannya karena takut bahwa pembelaan tidak bersalah berarti mendapat hukuman lebih berat. Para wanita yang tersisa memberikan berbagai alasan yang berbeda, satu orang  hanya berkata dia tidak punya keberanian untuk berdiri di pengadilan dan memperjuangkan kasusnya.

            Untuk lebih memperjelas  atas sikap orang-orang yang membantah pelanggaran, namun akhirnya mengaku bersalah, dibuat  suatu perbandingan, atas semua item informasi yang dikumpulkan, antara empat puluh  tujuh pembelaan konsisten dan lima puluh enam  pembelaan tidak konsisten yang menyangkal mereka bersalah. Kelompok yang tidak konsisten agak lebih muda, tapi selain dari ini tidak ada lagi perbedaan yang signifikan dalam latar belakang sosial atau medis. Namun, ada tiga hal utama di mana dua kelompok ini saling berbeda. Yang pertama berkaitan dengan jenis pelanggaran, insiden pelanggaran gangguan ketertiban umum seperti mengajak (mempengaruhi) orang lain dan mabuk-mabukan lebih tinggi di antara yang tidak konsisten, sementara pelanggaran properti lebih umum di antara yang konsisten.

            Perbedaan kedua adalah bahwa kelompok yang konsisten, tidak diragukan lagi karena permintaan mereka, jauh lebih sering dikirim kembali tanpa belum dicoba ke dalam tahanan, sehingga memberi pembenaran kepada beberapa pemohon tidak konsisten yang mengatakan mereka lebih suka mengaku bersalah dan “sepakat dengan ini” dari pada risiko dikembalikan ke penjara jika mempertahankan kasus. Dari para wanita yang menyangkal bersalah enam puluh dua, pertama kali datang ke penjara setelah di jatuhkan hukumannya, dan empat puluh tujuh dari mereka (76 persen) yang  telah mengaku bersalah. Di sisi lain, di antara empat  puluh satu orang yang menyangkal bersalah dan pertama kali datang ke penjara dan belum dicoba ke penjara, hanya sebagian kecil dari sembilan (22 persen) yang mengaku dengan tidak konsisten. Ketiga, ada perbedaan yang nyata dalam representasi dari dua kelompok.

            Tujuh puluh delapan dari wanita yang menyangkal bersalah tidak memiliki  pertimbangan hukum sebelum mengadakan pembelaan, dan dua pertiga dari mereka (lima puluh dua) mengaku bersalah, namun di antara 22 perempuan yang diketahui telah mendapatkan bantuan hukum sebelum mengadakan pembelaan, proporsi pembelaan  tidak konsisten adalah 13 persen-tiga wanita. Apakah ini berarti bahwa nasihat hukum mengurangi pembelaan tidak konsisten ? bisa dikatakan bahwa kesimpulan semacam ini tidak dibenarkan, karena di pengadilan yang lebih rendah orang-orang yang diwakili kemungkinan di pastikan akan menjadi sebagai yang paling bertekad untuk membela diri mereka sendiri, mereka akan mengaku tidak bersalah karena mereka di wakili ;  lebih dari pada mereka diwakili karena mereka berniat untuk mengaku tidak bersalah. Namun, dalam pengadilan yang lebih tinggi ada situasi yang berbeda, hampir semua orang yang di ajukan  ke pengadilan telah mendapatkan bantuan hukum, terlepas dari keinginan mereka untuk membela diri mereka sendiri, dan survei menunjukkan bahwa dalam sidang pengadilan tinggi kasus-kasus pembelaan tidak konsisten adalah langka seperti  di antara para wanita yang diwakili di pengadilan yang lebih rendah : dari tiga puluh tiga perempuan yang di adili di pengadilan tinggi, ketika diwawancarai, bertahan bahwa mereka tidak bersalah, lima  orang (15 persen) mengaku bersalah. Dengan demikian tampaknya terdapat ada beberapa bukti bahwa dalam kelompok terdakwa yang mempunyai akses untuk mendapatkan nasihat hukum sebelum membuat pembelaan, beberapa dari mereka yang  percaya bahwa dirinya  tidak bersalah akan mengaku bersalah.

            Mungkin hal yang paling mengganggu dari pembela yang tidak konsisten adalah jumlah perempuan di antara mereka yang tidak pernah di hukum sebelumnya. Di antara kasus yang di adili oleh hakim, ada 24 perempuan tanpa penghukuman sebelumnya, ketika mereka di wawancarai, membantah telah melakukan tindak pidana ; empat belas dari mereka, hampir 60 persen, mengaku bersalah. Dua orang mengatakan mereka telah melakukannya untuk menghindari di serahkan ke penjara, dan satu orang mengatakan bahwa pengacaranya menyuruhnya untuk mengaku bersalah. Seorang gadis yang diserahkan ke penjara dengan belum dicoba atas tuduhan memiliki obat terlarang mengatakan bahwa polisi telah  menanamkan hal ini pada dirinya ; setelah berbagai keraguan, ia memutuskan untuk tidak berkata begitu di pengadilan, karena merasa tuduhan seperti itu akan menimbulkan prasangka berbelok melawan dia. Mayoritas pelanggar pertama tidak konsisten, sembilan dari empat belas, memberi saran polisi atau tekanan sebagai alasan mereka untuk mengaku bersalah. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa polisi telah  mengancam akan “di kirim” jika mereka mengaku tidak bersalah ; yang lainnya mengatakan bahwa mereka telah diberitahu akan “dihilangkan” (dengan halus atau percobaan dll) jika mereka tidak menentang kasus ini. Beberapa perempuan mengatakan bahwa mereka telah disarankan untuk mengaku bersalah dengan cara yang baik sekali, polisi mengatakan kepada mereka bahwa ini adalah cara paling sederhana untuk menyelesaikan kasus di atas, dan untuk menghindari resiko publisitas, atau di serahkan ke dalam tahanan. Mudah untuk melihat bagaimana mereka yang tidak memiliki pengalaman dengan kantor polisi atau pengadilan akan dengan penuh syukur menerima nasihat seperti itu, dan itu penting bahwa, sementara hanya 9 persen dari residivis konsisten mengatakan  nasihat polisi sebagai alasan mereka untuk mengaku bersalah, 64 persen dari pelanggar konsisten pertama mengatakan mereka telah melakukannya sebagai respon atas persuasi polisi .

            Beberapa jenis pelanggaran tertentu yang secara khusus berkaitan dengan  pembelaan yang tidak konsisten, mengajak orang lain menjadi kasus yang luar biasa. Lima puluh sembilan anak perempuan–semuanya  kecuali satu yang tidak terwakili-di dakwa dengan pelanggaran ini ; 27 menyangkal, tapi delapan belas dari mereka mengaku bersalah. Semua kecuali dua dari gadis-gadis berusia delapan belas tahun ini mengakui bahwa mereka pelacur, apa yang mereka sangkal adalah bahwa pada saat penangkapan adalah sebagai perdagangan mereka. Lima dari sembilan wanita yang mengaku tidak bersalah juga mengatakan hal yang sama. Semua gadis-gadis ini memberikan pengakuan semacam itu ; ketika ditangkap, mereka telah keluar dari daerah dimana mereka dikenal, tetapi tidak dalam suatu urusan bisnis, beberapa orang  sedang berbicara dengan sesama teman cewek (kadang dengan pelacur lainnya), yang lain sedang berbicara dengan teman-teman pria di jalan, dan satu atau dua orang ditangkap pada saat keluar dari mobil. Satu orang profesional-ia mengaku tidak bersalah-mengatakan ia telah di hentikan oleh seorang pelaut yang memintanya untuk datang kapalnya untuk melakukan bisnis. Dia menolak dan terus berjalan, dan kemudian ditangkap karena mengajak.

            The Street Offences Act 1959. Tidak diragukan lagi menempatkan gadis-gadis ke dalam posisi yang sulit. Jika mereka memiliki keyakinan atau sebelumnya  telah diperingatkan, mereka di masukkan dalam “pelacur definisi umum”, dan jika seorang pelacur yang dikenal sedang berbicara di sudut jalan dengan seorang pria, polisi juga dapat menangkap dia karena  tuduhan mengajak, meskipun sebenarnya ia hanya teman atau orang asing yag menanyakan jalan. Apa yang  dapat gadis seperti itu lakukan ? Ia dapat mencoba untuk membela kasus tapi untuk melakukannya secara efektif dia perlu orang yang dia sedang ajak berbicara untuk bertindak sebagai saksi. Seorang gadis muda berusia delapan belas tahun mengungkap kesulitan-kesulitan untuk hal ini. Dia ditangkap dengan tuduhan mengajak, dan diserahkan dalam tahanan ketika dia mengaku tidak bersalah. Dia tidak meminta bantuan hukum, dan pengadilan  juga tidak menyarankan itu. Ketika di wawancarai dia mengatakan bahwa ia telah berada di Piccadilly ketika seorang pria menanyakan jalan ke sebuah klub. Dia lalu menunjukkan jalan pada lelaki itu, dan kemudian ditangkap karena tuduhan mengajak. Dia mengatakan bahwa dia meminta petugas yang menangkapnya apakah ia  mau pergi dengannya ke klub untuk mencari orang itu, dan membuktikan  apa  yang menjadi isi pembicaraan mereka, tapi ini ditolak. Dalam keadaan seperti itu tidak mudah bagi seorang gadis untuk mencoba menentang bukti dari polisi, dan tanpa nasihat dan bantuan hukum  itu  adalah mustahil.

            Mungkin ada sedikit simpati untuk profesional yang ditangkap saat tidak sedang bertugas, tetapi posisi hukum saat ini, yang mengekspos orang dengan keyakinan atau peringatan sebelumnya untuk tuduhan mengajak dengan risiko salah penangkapan terulang kembali, tampaknya tidak memuaskan. Para perempuan itu sendiri secara umum menerima situasi ini sebagai bahaya yang tak terelakkan dari perdagangan mereka, dan menerima nasib untuk mengaku bersalah. Tidak diragukan lagi, ini menjelaskan tingkat representasi yang sangat rendah. Namun, orang dapat  memperkirakan apa hasilnya jika suatu percobaan serupa dengan yang dijelaskan oleh Donald Goff di kenakan dengan pelacur–pelacur di London. Goff melaporkan bahwa di Kota New York, di mana mabuk–mabukan di tempat umum bukanlah merupakan pelanggaran hukum, pecandu alkohol biasa di tuduhkan dengan “mengganggu ketertiban umum”, mereka tidak pernah diwakili, kasusnya  jarang  dibela dan hampir 100 persen dijatuhi hukuman tinggal di rumah sosial beberapa waktu. Sebagai percobaan, pengacara ditugaskan untuk menangani sekitar 1.400 kasus-untuk berdebat dari segi hukum, mabuk-mabukan tidak selalu menyebabkan gagguan ketertiban umum. Hanya tujuh dari 1.400 orang diwakili yang terbukti bersalah. Akan menarik untuk mengetahui berapa proporsi gadis yang dituduhkan dengan tuduhan mengajak  akan terbukti bersalah, jika mereka diwakili pada skala ini.

            Sementara itu, enam belas dari delapan belas pelacur yang melakukan pembelaan tidak konsisten mengakui perdagangan mereka, ada dua gadis berusia delapan belas dan sembilan belas tahun yang mengaku bersalah walaupun mereka membantah pernah di ajak dalam hidup mereka. Juga tidak memiliki keyakinan sebelumnya dalam bentuk apapun. Salah seorang berkata bahwa polisi mengatakan kepadanya jika dia mengaku bersalah ia akan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mengakhiri kasus ini. Dia menambahkanmereka mengatakan itu pada semua orang, tetapi saya tidak tahu itu selanjutnya. Kasus yang lainnya adalah diuraikan di bawah ini.
            Kasus 591 : seorang gadis berusia sembilan belas tahun tanpa pernah memiliki penghukuman sebelumnya bergaul dengan teman-teman yang penjahat. Dia telah diperingatkan untuk tuduhan mengajak meskipun ia membantah (ke petugas masa percobaan, serta dua pewawancara yang berbeda dalam penyelidikan sekarang) bahwa ia pernah melakukan ini. Pada saat hari penangkapan, dia sedang berjalan dengan seorang yang dikenal sebagai pelacur dan keduanya dikenakan tuduhan. Dia mengatakan bahwa polisi mengancam akan menyerahkannya ke dalam tahanan  penjara jika dia tidak mengaku bersalah. ‘Aku takut dan ingin ini segera selesai’. Dia mengaku bersalah dan kemudian diserahkan dalam tahanan untuk penyidikan medis. Sampai ia  tiba di Holloway dia tidak tahu tentang sifat dari bantuan hukum. “Saya pikir itu adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk sesi kuartal saja”.

            Dalam dua jenis pelanggaran lain khususnya yang berkaitan dengan pembelaan yang konsisten-menadah dan menjaga rumah bordil-terdakwa memerlukan nasihat tentang implikasi hukum atas suatu tuduhan dengan sangat jelas. Enam wanita yang mengaku bersalah atas tuduhan menadah mengatakan saat             di wawancarai, bahwa mereka tidak  mengetahui hal itu sampai polisi mengatakan kepada mereka, bahwa barang–barang itu adalah hasil curian, tidak satupun  yang menyadari bahwa ini menjadi alassan atas tuduhan yang di kenakan pada mereka dan tidak satu pun dari mereka telah mendapatkan nasihat hukum. Demikian pula, lima perempuan (semua terwakili) yang menyangkal bahwa mereka telah terlibat dalam menjaga rumah bordil, belum mengaku bersalah atas tuduhan itu, tidak memahami unsur-unsur hukum dalam tindak pidana. Ini mungkin tampak cukup  untuk orang biasa bahwa seseorang yang percaya dirinya tidak bersalah atas tuduhan menjaga rumah bordil (atau meminta) dapat mengaku bersalah untuk pelanggaran seperti itu, namun buktinya adalah bahwa terdakwa mungkin saja melakukannya jika dia percaya pembelaan seperti itu menjadi sedikit lebih jahat daripada orang lain yang membuatnya merasa terancam. Seorang wanita tanpa penghukuman sebelumnya, ibu dari empat anak-anak yang masih kecil–kecil, mengaku saat diwawancara bahwa dia bergaul dengan siapa saja, tetapi menolak sepenuhnya telah melakukan prostitusi,  atau menjaga rumah bordil. Pada tuduhan yang kedua, ia mengatakan bahwa ia telah diberi tahu di kantor polisi bahwa cara tercepat untuk menyelesaikan kasus dan kembali ke anak-anaknya adalah jika ia mengaku bersalah, dan dia melakukannya. Setelah dikirim kembali ke Holloway (untuk laporan medis) dia mencari bantuan hukum, dan mencoba, tanpa hasil, untuk mengubah pembelaanya. Wanita lain tanpa penghukuman sebelumnya mengaku bersalah untuk  tuduhan menjaga rumah bordil meskipun ia telah menyangkal, dia mengatakan bahwa polisi telah mengatakan padanya bahwa tidak perlu untuk menghubungi pengacara, karena kasus yang dipertengkarkan hanya akan melibatkan skandal dan publisitas, sementara  pengakuan bersalah akan memungkinkan dia untuk keluar dari pengadilan dalam waktu lima menit.

            Apapun keberatan yang di katakan oleh  perempuan  dalam kasus ini, hal yang  berulang–ulang muncul adalah pentingnya bagi orang yang dituduh untuk memperoleh nasihat hukum sebelum mengadakan pembelaan. Meskipun dalam pengadilan terbuka terdakwa  di tanyai apakah dia mengerti tuduhan yang di jatuhkan padanya, dan diberi kesempatan untuk menempatkan kasusnya, temuan ini menunjukkan bahwa ini  tidak  cukup. Orang yang telah di bujuk bahwa diasecara hukum” bersalah, atau bahwa itu adalah untuk kepentingan dirinya mengaku bersalah atas tuduhan yang telah disangkalnya, telah memaksanya membuat keputusan sebelum ia muncul di pengadilan.

Kesimpulan

            Nampaknya di pengadilan yang lebih rendah  pembelaan yang tidak konsisten  menjadi masalah besar, sebagian berasal dari kurangnya nasihat hukum. Dua pertiga dari perempuan terwakili yang bertahan bahwa mereka tidak bersalah namun akhirnya mengaku bersalah, sementara di kalangan orang-orang yang diwakili, baik dalam pengadilan tinggi ataupun di pengadilan yang lebih rendah, persentase  pembelaan yang tidak konsisten tidak lebih dari 15 persen.

            Faktor yang memberi sumbangan dalam pembelaan yang tidak konsisten tampaknya menjadi alasan bagi kecenderungan polisi untuk membujuk terdakwa mengaku bersalah, meskipun harus ditekankan bahwa hanya sebagian kecil tahanan yang disebutkan dalam kasus ini, dari 139 sampel perempuan yang mengatakan bahwa mereka tidak bersalah, 18 persen (26) mengatakan bahwa polisi telah berusaha membujuk mereka untuk mengaku bersalah, sedangkan dari lima puluh enam perempuan yang mengaku bersalah di pengadilan hakim meskipun mereka mengatakan bahwa mereka tidak bersalah, kurang dari sepertiga (tujuh belas) mengatakan  persuasi polisi sebagai alasannya. Namun demikian, di antara mereka yang menyangkal bersalah dan mengatakan persuasi polisi, mayoritas-tujuh belas dari dua puluh enam-mengaku bersalah, perbandingannya tertinggi di antara pelaku pelanggaran pertama.

            Hal ini bukanlah masalah yang baru ; Masyarakat Hukum, dengan bukti-bukti yang mereka temukan untuk Royal Komisi Polisi tahun 1962, mengatakannasihat untuk mengaku bersalah terlalu mudah diberikan oleh petugas polisi dan menyarankan bahwa polisi jangan pernah harus mendiskusikan pembelaan dengan seorang terdakwa. Bukti dari National Association of Probation Officers juga menarik perhatian terhadap masalah tersebut.

            Sebuah keluhan yang serius biasanya di dapatkan oleh petugas pengawas, dan yang kami yakin memiliki landasan substansial, adalah bahwa ketika mempertanyakan pelaku yang dicurigai polisi mungkin menawarkan untuk “ memberi kata–kata yang baik” atau menunjukkan perlakuan lunak mungkin disarankan di pengadilan jika si pelaku akan mengakui pelanggaran dan mengaku bersalah. Hal ini dapat terjadi ketika pelaku tidak jelas menyadari sifat tuduhan yang di tuduhkan terhadapnya, mungkin menuju ke penghukuman pelanggaran yang lebih serius daripada dimana suatu putusan  telah di peroleh (atau mudah untuk di dapatkan) dalam kasus di pertengkarkan. Kami tidak memiliki keraguan dari kekuatan bukti anggota kami bahwa perbuatan telah berlangsung, namun secara halus itu dapat digunakan. Komisi Royal menerima bukti ini, dan mengatakan bahwa perbuatan harus tegas diperiksa oleh kepala polisi.


            Karena masih ada masalah, mengenai apa yang bisa dilakukan ? Telah diberikan sejumlah saran atas pelecehan yang serupa juga dibahas oleh Komisi Royal penggunaan metode-metode yang tidak dibenarkan oleh polisi demi untuk mendapatkan pernyataan dan pengakuan. Salah satunya adalah bahwa orang-orang independen, seperti hakim atau pengacara, harus hadir dalam interogasi polisi. Pembelaan Tidak konsisten, apakah sebagai respon atas persuasi polisi atau pun penyebab lainnya, pasti akan berkurang jika dapat dipastikan bahwa setiap orang yang dituduh memiliki kesempatan berbicara pada penasihat hukum sebelum memasuki pembelaan. Akibatnya, inilah yang terjadi dalam kasus-kasus yang di adili di depan pengadilan tinggi di mana pembelaan tidak konsisten bukan masalah yang signifikan. Jika hal yang sama terjadi di pengadilan yang lebih rendah, tidak hanya akan dapat dipastikan bahwa setiap orang yang telah dipengaruhi oleh persuasi polisi akan memiliki akses yang mudah untuk mendapatkan saran yang independen, tetapi juga akan memastikan bahwa sebelum terdakwa memasuki ruang sidang, ia telah akan memiliki nasihat dari ahli atas sifat tuduhan, dan untuk kebutuhan bantuan hukum dalam menghadapi itu.


PENGARUH DISKON HUKUMAN DALAM MENDORONG
PENGAKUAN BERSALAH


            Bahwa terdakwa biasanya mendapat beberapa pengurangan hukuman jika mereka mengaku bersalah adalah prinsip yang diterima dalam peradilan pidana Anglo-Amerika.
Di negeri ini, tidak ada perdebatan nyata yang pernah dihasilkan dari prinsip ini dan mungkin akan dianggap, setidaknya di kalangan hukum, sebagai sesuatu hal yang aneh jika kita mempertanyakan ini atau bahkan memberi saran untuk menilai ulang tempat atas mana hal tersebut di dasarkan. Namun tidak ada satu pertimbangan lain yang meliputi seluruh cara kerja administrasi peradilan pidana atau kondisi semacam itu dan mengarahkan sifat pilihan terbuka untuk terdakwa. Memang, mungkin ini adalah wujud  dari prinsip diskon hukuman yang terkenal itu yang sebagian besar menjelaskan mengapa hanya sekitar 4 persen dari semua mereka yang dituduh dengan tindak pidana dapat dituntut, dan karena itu memenuhi syarat untuk di adili oleh juri, sebenarnya sangat dicoba. Sebagian besar keputusan terdakwa,  karena alasan yang sebagian besar  hingga kini belum di selidiki oleh para peneliti di negara ini, untuk melupakan pengadilan juri  dan mengaku bersalah.

            Literatur Amerika yang sangat banyak mengenai negosiasi pembelaan menunjukkan, setidaknya bahwa banyak perhatian lebih yang harus dibayarkan atas pertemuan yang terjadi sebelum sidang pengadilan formal, baik ketika terdakwa sedang diwawancarai oleh polisi atau ketika dia sedang dinasihati oleh pengacaranya. Dalam studi yang kami lakukan sendiri baru-baru ini  atas suatu kasus di Birmingham Crown Court, kami mewawancarai seorang sampel dari 121 terdakwa yang pada tahap akhir telah mengaku bersalah, baik untuk seluruh dakwaan sebagaimana adanya atau dakwaan kecil lain yang menyertainya. Kepentingan kami dalam sampel terdakwa ini bahwa ia dapat memberi keterangan atas praktek yang dikenal longgar  seperti “tawar-menawar pembelaan” itu. Dari sampel ini kami menemukan proporsi yang sangat tinggi individu yang mengatakan bahwa mereka telah merundingkan  suatu upaya pembelaan. Banyak yang mengatakan bahwa mereka telah mengambil beberapa tawaran dan menerima janji dari hukuman tertentu sebagai imbalan karena mengaku bersalah, atau bahwa mereka telah menerima pandangan dari pengacara mereka bahwa itu akan keliru jika memperkarakan masalah ini di pengadilan dan lebih baik untuk mengaku bersalah dan menerima-seperti yang di pahami oleh hampir semua terdakwa dalam sampel-pengurangan hukuman yang cukup besar dan otomatis sebagai hasilnya.

Dalam proses wawancara dengan terdakwa tersebut, kita dikejutkan oleh pengaruh yang menentukan penurunan hukuman, baik yang nyata atau yang diasumsikan oleh mereka. Posisi hukum atas pertanyaan ini sangat jelas : dalam kasus-kasus yang tepat pengadilan dapat lebih lunak dalam menangani terdakwa yang mengaku bersalah ketika hal ini menunjukkan indikasi dari penyesalan atas perbuatan yang dilakukan, tetapi hukuman yang lebih berat tidak pernah dibenarkan hanya karena terdakwa mengaku tidak bersalah. Jadi di Harper, pengadilan banding mengurangi lima tahun hukuman untuk seorang penadah hingga tiga tahun karena pernyataan tertentu oleh hakim yang menjatuhkan hukuman kepada mereka, dan berkata : Pengadilan ini merasa bahwa sangat tidak layak untuk menggunakan bahasa yang menunjukkan bahwa terdakwa dijatuhi hukuman karena dia telah mengaku tidak bersalah atau karena ia telah membuat upaya pembelaan dengan cara tertentu. Meskipun demikian, adalah tepat untuk memberikan terdakwa hukuman yang lebih ringan jika ia telah menunjukkan penyesalan yang sungguh–sungguh antara lain dengan mengaku bersalah.

Jika pelaku adalah benar-benar menyesal, maka wajar jika hakim akan menganggap ini sebagai suatu alasan untuk mengubah hukuman. Hal ini dapat dipertahankan dengan alasan, misalnya bahwa terdakwa seperti itu memerlukan hukuman yang lebih rendah untuk merubah diri karena dia sudah berubah atau bahwa ia sudah sebagian dihukum oleh rasa penyesalan. Meskipun benar untuk mengatakan bahwa bukti penyesalan kadang-kadang  datang dari laporan penyelidikan sosial atau dalam kata–kata nasihat dalam mitigasi, memang pengadilan tidak biasanya menyelidiki adanya penyesalan dan pertobatan. Salah satu indikasi dari hal ini adalah fakta bahwa tergugat yang mengaku bersalah di pengadilan mahkota ini hampir tidak pernah ditanyai  oleh hakim apakah ia ingin mengatakan sesuatu sebelum hukuman di jalankan. Kesimpulan yang kita ambil dari ini adalah bahwa pengakuan bersalah itu sendiri umumnya diambil oleh pengadilan sebagai suatu bukti penyesalan yang kuat, jika tidak konklusif. Akan tetapi, tidak dapat diragukan bahwa jika pengadilan terlibat dalam penyelidikan pencarian lebih jauh dalam kasus-kasus yang kami periksa, mereka akan jarang yakin bahwa terdakwa benar-benar menyesal. Sebagian besar terdakwa yang kita ajak berbicara menganggap bahwa mereka telah menerima pengurangan hukuman berdasarkan fakta bahwa mereka telah mengaku bersalah, tetapi sangat sedikit dari mereka yang beralasan berpura-pura selama wawancara bahwa mereka menyesali keterlibatan mereka dalam pelanggaran yang di tuduhkan. Memang, lebih dari setengah dari mereka protes, dengan berbagai tingkat semangat dan kredibilitas, beberapa minggu setelah kasus mereka telah diputuskan, bahwa mereka sebenarnya tidak bersalah, seluruhnya atau sebagian atas tuduhan yang telah mereka akui bersalah. Sisanya mungkin setengah menunjukkan beberapa derajat penyesalan ; sebagian  besar malah pahit, sinis atau marah atas apa yang mereka pandang sebagai sebuah sandiwara belaka di mana mereka telah berpartisipasi di dalamnya.

Alasan para terdakwa memutuskan untuk mengaku bersalah banyak dan kompleks, tetapi benang merah di antara mereka adalah bahwa dalam kebanyakan kasus dorongan pengurangan hukuman di anggap mengikuti pengakuan bersalah. Ini adalah salah satu faktor yang sangat mewarnai ketika pengacara memberikan nasihat pada klien mereka tentang pembelaan. Hampir tanpa terkecuali, terdakwa dalam sampel mengatakan mereka telah diberitahu oleh pengacara bahwa mereka akan jauh lebih mungkin untuk menerima hukuman lebih berat jika mereka tidak berhasil memenangkan masalah tersebut. Dua contoh berikut menunjukkan efek nasihat dari nasihat–nasihat seperti itu.

Kasus 137 :  Saya  mengikuti saran pengacara dan mengaku bersalah, meskipun saya ingin  terus melanjutkan kasus ini dan mengaku tidak bersalah. Dia berkata bahwa jika juri menemukan saya bersalah, saya akan dihukum untuk waktu dua atau tiga tahun, anda mengerti . Dia mengatakan bahwa saya akan mendapatkan dua tahun penangguhan (hukuman) jika saya mengaku bersalah. Dia bertanya apakah saya adalah seorang penjudi besar atau tidak. Saya katakan padanya saya bukan itu dan dia berkata, “itulah yang mesti kamu lakukan, saya punya ide bagus atas apa yang saya maksud berjudi itu, saya tidak punya banyak peluang, cara yang di lakukannya. saya tidak suka mengaku bersalah sama sekali tetapi saya lakukan apa yang menurutnya terbaik dan mengaku bersalah atasa sesuatu yang tidak pernah saya lakukan. Saya pikir saya tidak punya banyak pilihan di dalamnya.

Kasus 147 : pengacara mengatakan jika Anda mengaku tidak bersalah dan Anda di ketahui bersalah, Anda akan  di hukum tiga atau empat tahun (di penjara). Jika Anda mengaku bersalah, Anda akan dapatkan sekitar 18 bulan sampai dua tahun. (Terdakwa akhirnya menerima 21 bulan). Ia berulang kali mengatakan apa yang akan terjadi dalam kata-kata sebanyak itu . Dia mengatakan, itu terserah Anda, kami dapat melakukan banyak hal dengan mereka (penuntut) jika Anda mengaku bersalah atas tuduhan pemerkosaan itu . Ia lebih kurang menasihati saya untuk mengaku bersalah. Dia berkata, ‘Anda tahu sendiri apa yang disukai oleh hakim ini  untuk tindak pidana kekerasan :  ia adalah pemain domino, hukumannnya sekitar tiga atau lima tahun.

Karena telah hampir tidak ada perdebatan  tentang kelayakan diskon hukuman di negeri ini, sekalipun atas pengaruh yang mendorong dari sifat saran yang diberikan penasihat kepada kliennya, Kami mencoba untuk menilai sejauh mana pemberian diskon  kepada terdakwa yang mengaku bersalah dan untuk mengetahui seberapa jauh faktor utama yang menyebabkan terdakwa untuk mengaku bersalah lebih dari sekedar kenyataan yang dirasakan. Dalam percakapan kami dengan anggota peradilan, kami semakin  mengetahui spektrum pandangan dalam pertanyaan ini. Beberapa hakim bahwa menganggap pengurangan mungkin setengah atau sepertiga dari hukuman apa pun dikenakan sebagai imbalan yang adil dalam banyak kasus untuk sebuah pengakuan bersalah ; yang lain melihat bahwa pengurangan dalam hukuman semata-mata tergantung pada bukti penyesalan dari terdakwa yang di akui sebagai suatu kejadian yang cukup luar biasa. Tidak ada hakim  yang pernah kita tanyai yang menunjukkan bahwa setiap pertambahan dalam hukuman diperbolehkan mengikuti suatu  pembelaan tidak bersalah dan seperti dicatat sebelumnya, Pengadilan Banding telah berulang kali menekankan hal ini. Namun, mudah untuk memahami mengapa terdakwa sering menganggap alasan semacam ini sebagai  sesuatu yang tidak berarti. Sejauh yang kita tahu, perbedaan hukuman dilihat oleh hampir semua terdakwa sebagai hukuman yang dikenakan pada mereka yang tidak berhasil dalam memenangkan kasus mereka.

Berbagai tes telah digunakan oleh penulis Amerika dari waktu ke waktu untuk menilai sejauh apa diskon hukuman untuk sebuah pengakuan bersalah. Akan tetapi,  hasil yang di peroleh sampai saat ini adalah tidak meyakinkan. Beberapa penelitian telah menemukan pengurangan substansial, yang lain tidak menemukan apapun, tetapi mentahnya pengukuran yang digunakan, serta kegagalan penulis bahkan untuk memperhitungkan faktor kompleks yang jelas (seperti catatan pidana terdakwa yang bersangkutan), mungkin membuat sebagian besar perbandingan tidak memiliki arti. Pada dasaranya, pengujian yang kami rancang untuk menilai sejauh mana  pengurangan hukuman mengikuti pengakuan bersalah adalah sederhana. Kami mengambil sampel 150 permohonan terdakwa yang terlambat mengubah pembelaaanya (sampel yang sama yang membentuk dasar “Keadilan Negosiasi”, Baldwin dan Mc Conville, 1977) dan mencocokkan mereka, secara kelompok berdasarkan beberapa kriteria yang relevan dengan hukuman, dengan dua sampel yang terpisah (baik  dalam jumlah 150) dari terdakwa. Satu sampel yang terakhir adalah terdakwa yang mengaku tidak bersalah di pengadilan Crown Birmingham dan kemudian dihukum, yang lainnya bisa disebut mengaku bersalah langsung, yaitu mereka yang mengaku bersalah di pengadilan, dan telah memutuskan untuk melakukannya jauh hari sebelum persidangan. Kriteria yang digunakan untuk mencocokkan ketiga sampel adalah sebagai berikut :
1. Seks
2. Usia
3. Kategori pelanggaran
4. Jumlah pengadilan catatan kriminal
5. Catatan kriminal terdakwa
6. Lamanya waktu yang dihabiskan di penjara

            Ketiga sampel yang digunakan termasuk jumlah perempuan yang sama, individu-individu dari usia yang sama, pengalaman kriminal dan sejenisnya. Dengan kata lain, kami telah berusaha untuk mengendalikan faktor-faktor yang cenderung mempengaruhi  beratnya hukuman yang dijatuhkan. Setelah  mengendalikan faktor-faktor ini, kami menyimpulkan bahwa setiap variasi dalam pola hukuman antara tiga kelompok bisa dihubungkan dengan pembelaan berbeda yang ditawarkan oleh terdakwa yang bersangkutan. Hipotesis kami berusaha untuk menguji ketiga kelompok tersebut dimana mereka yang dihukum setelah pembelaan tidak bersalah akan menerima hukuman paling berat karena mereka akan dibatalkan, berdasarkan permintaan mereka, pengurangan hukuman yang mungkin mereka akan dapatkan. Seperti di antara kelompok yang mengubah pembelaanya belakangan dan kelompok yang mengaku bersalah langsung, ada dua kemungkinan. Sebagaimana ditunjukkan di atas, banyak dari kelompok  yang di sebutkan tadi akan telah mengaku bersalah hanya setelah mereka mencapai tawar-menawar hukuman yang menguntungkan atau jika tidak (misalnya mengaku bersalah hanya untuk mengurangi tuntutan) diambil dari penuntutan konsesi yang mungkin akan memiliki efek pengurangan hukuman. Jika klaim ini tidak benar, kita telah menduga bahwa hukuman mereka akan menjadi sama dengan yang dalam kasus pengakuan bersalah langsung. Di sisi lain, jika diklaim telah dilakukan tawar–menawar dan diambil konsesi seperti yang dijelaskan terdakwa, maka kita berharap bahwa ini tercermin dalam hukuman yang lebih ringan (kurang keras) dari yang dijatuhkan kepada kelompok yang mengaku bersalah langsung. Variasi dalam hukuman menurut pembelaan dengan jelas mendukung hipotesis terakhir. Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa terdakwa yang kalah dalam kasus jauh lebih kecil kemungkinannya dibandingkan dengan dua kelompok yang lainnya  untuk menerima  hukuman non-penahanan. Dari ketiga kelompok tersebut, terdakwa yang  belakangan  mengubah  pembelaanya menerima diskon hukuman yang paling sedikit  dan sangat kecil kemungkinannya dibandingkan dengan dua kelompok lain untuk menerima hukuman penahanan. Variasi dalam pola  hukuman mendukung hipotesis bahwa perbedaan dalam pembelaan secara signifikan mempengaruhi hukuman yang diterima, dan memberikan bukti lebih lanjut bahwa negosiasi penyelesaian  pembelaan ternyata memang terjadi pada para terdakwa dalam kelompok yang dijelaskan ini.

            Selanjutnya, ketika kita memeriksa  lamanya hukuman penjara yang dikenakan pada  masing–masing dari ketiga kelompok ini, jelas bahwa banyak dari mereka yang mengaku tidak bersalah dan  di jatuhi hukuman dikirim ke penjara  dalam jangka waktu yang lama.

Hasil yang disajikan ini bertentangan dengan pendapat bahwa ada diskon  hukuman langsung (untuk mengatakan, setengah dari hukuman) untuk sebuah pengakuan bersalah. Jelaslah bahwa, bagi banyak orang, bentuk hukuman akan sangat berbeda jika kasus tidak berhasil dimenangkan. Kenyataannya  banyak dari mereka yang  mengajukan  perkaranya  menerima  hukuman penjara dari pada dengan kasus yang tidak dapat di menangkan oleh dua kelompok lainnya, jika analisis kami benar, akan dapat dijelaskan kecuali dalam istilah tawaran pembelaan. Ini sama sekali tidak mengejutkan, kemudian, bahwa diskon hukuman seperti itu merupakan suatu dorongan yang sangat kuat  bagi hampir semua terdakwa  untuk mengaku bersalah.

            Kami telah berulang kali memperdebatkan bahwa jenis pengurangan hukuman yang banyak terdakwa harapkan jika mereka mengaku bersalah mungkin akan merupakan dorongan yang begitu kuat sehingga bahkan orang yang tidak bersalah merasa bijaksana untuk mengaku bersalah. Seperti yang kita lihat, argumen pokok terhadap prinsip diskon hukuman yang terkenal itu adalah bahwa dorongan yang ditawarkan mengena pada semua terdakwa, kepada yang bersalah maupun yang tidak bersalah. Selanjutnya, diskon yang paling besar, atau lebih tepatnya, diskon yang diharapkan untuk  sebuah pengakuan bersalah, semakin besar risiko bahwa terdakwa yang tidak bersalah akan mengaku bersalah. Dalam proses wawancara yang kami lakukan sendiri,  kami telah yakin bahwa terdakwa tertentu dalam sampel mengaku bersalah meskipun ia tidak bersalah atas tuduhan yang mereka hadapi. Akan salah  jika  kita menyatakan bahwa hal ini sering terjadi di negeri ini, tetapi kenyataan bahwa hal tersebut memang benar terjadi mengharuskan kita untuk merenungkan pembenaran untuk pemberian beberapa pengurangan hukuman yang signifikan kepada mereka yang mengaku bersalah.

Kami akan menganggap bahwa, kecuali dalam kasus yang relatif jarang terjadi di mana terdakwa menunjukkan penyesalan yang sungguh–sunguh, tidak ada pembenaran hukum atas perbedaan besar dalam hukuman sesuai dengan tawar- menawar pembelaan. Dari hal tersebut di atas kita mencatat bahwa, setidaknya  yang berkaitan dengan terdakwa yang belakangan mengubah pembelaannya, manifestasi dari penyesalan atau penyesalan yang dalam penilaian kami, sangat jarang terjadi.  Seperti yang telah dikatakan dengan tepat oleh seorang penulis, bahwa “seorang hakim yang acapkali menerima ungkapan penyesalan menimbulkan kebijakan hukuman diferensial mungkin memiliki pandangan yang terlalu murah hati atas sebuah penyesalan.

Pembenaran lain telah dikemukakan oleh beberapa komentator, meskipun tidak satu pun tampaknya memberi  kita alasan yang cukup untuk menjamin dari pada sekedar pengurangan hukuman minimal. Argumen mengenai hukuman yang diferensial (selain pertanyaan tentang penyesalan) mempunyai dua bentuk utama, pertama, keyakinan bahwa mereka yang mengaku tidak bersalah yang telah dihukum akan menyebabkan tekanan yang tidak perlu pada saksi dan sebagai  akibatnya akan mengutuki dirinya sendiri, dan kedua, sebuah pertimbangan administrasi, bahwa terdakwa yang kalah dalam kasus akan menyebabkan pengadilan harus menghukumnya karena telah membuang-buang waktu di pengadilan dengan biaya publik yang sangat besar. Namun demikian, kedua argumen ini mudah dipertahankan. Seperti pada awalnya, kurangnya ketelitian yang tak terelakkan dalam persidangan oleh hakim  membuat hal–hal semacam itu berbahaya. Analisis awal dari hasil penelitian kami terhadap hasil pengadilan hakim di Birmingham Crown Court menunjukkan bahwa penghukuman atas terdakwa yang tidak bersalah adalah kejadian yang sering  terjadi dibandingkan dengan apa sekarang ditunjukkan oleh peneliti atau komentator lainnya. Argumen kedua adalah berlaku hukum yang kebenaraannya diragukan, yang berdasar pada persyaratan administrasi birokrasi pengadilan dan hanya memiliki sedikit relevansi dengan pertanyaan tentang keadilan. Ini adalah hal yang biasa untuk berbicara tentang hak di adili oleh juri dan hak untuk meminta penuntutan untuk membuktikan kasus yang kebenarannya tidak diragukan. Entah ini adalah hak atau bukan hak mereka, dan jika itu adalah hak, pada prinsipnya itu tidak dapat dipertahankan bahwa setiap terdakwa dikenakan sejumlah denda tambahan semata-mata karena tuntutan kasus dapat dibuktikan. Sekarang juga mungkin bahwa sumber daya pengadilan sepertinya membutuhkan beberapa disinsentif besar  bagi terdakwa yang ingin diadili oleh hakim.

Seperti dikatakan Profesor Cross : Sistem persidangan tindak pidana kriminal di Inggris  akan terhenti jika semua orang yang di dakwa dengan suatu tindak pidana di Pengadilan Besar mengaku tidak bersalah. Sangat tidak mungkin bahwa prospek pengurangan hukuman akan menyebabkan terdakwa yang tidak bersalah akan mengaku bersalah, dan perlu pahami itu hanya merujuk pada mereka yang di dakwa bersalah, seperti yang dikatakan dalam pengadilan. Dalam R.v. de Habn, “jelas untuk kepentingan umum”.

Namun, suatu sistem peradilan yang mentah hanya di dasarkan pada penghargaan dan dis-insentif tidak dapat secara akurat membedakan antara orang yang salah dengan yang tidak bersalah dan kami tidak melihat bagaimana kita bisa melakukan pemotongan hukuman, seperti dikatakan Cross, “memahami untuk hanya merujuk kepada orang yang terdakwa bersalah”. Yang benar adalah bahwa perdebatan diantara para pengacara atas pertanyaan ini cenderung jujur.Apa yang sedang terjadi  pada satu situasi dianggap seluruhnya layak  diselenggarakan dalam situasi lain patut dipuji. Perhatikan ilustrasi berikut:

Kasus A: terdakwa diwawancarai di kantor polisi
Detektif: anda tidak mempunyai kesempatan lagi saat kasus anda tiba di pengadilan. Ini akan menghemat waktu jika Anda mau membuat pernyataan bahwa anda mengakui kesalahan.
Tergugat: akankah Anda bisa memberi saya jaminan jika saya lakukan itu?
Detektif: ya
Tergugat: baiklah, akankah anda mau menuliskan surat jaminan untuk saya?

Kasus B : seorang terdakwa diwawancarai sebelum sidang di Pengadilan Crown
Penasihat pembela: bukti yang menyudutkan Anda sangat luar biasa. Saya menyarankan Anda untuk mengaku bersalah, dan Anda akan mendapatkan hukuman yang lebih pendek karena anda telah menghemat waktu pengadilan.
Tergugat: Baiklah jika anda mau membantu saya untuk mendapatkan hukuman yang lebih ringan.

Kasus A : Pada sidang Pengadilan Mahkota
Penasihat pembela: Klien saya telah dibujuk untuk membuat pengakuan dengan jaminan yang dijanjikan.
Hakim: pengakuan tersebut dapat diterima sebagai bukti. Perilaku petugas polisi dalam membuat janji adalah tercela dan tindakannya harus dibawa ke pemberitahuan dari pihak berwenang sehingga tindakan disiplin dapat diambil.

Kasus B : Pada sidang Pengadilan Mahkota
Penasihat pembela: Dengan cara mitigasi, saya meminta perhatian Yang Mulia pada fakta bahwa klien saya telah mengaku bersalah dan dengan demikian menghindari sidang berlarut-larut.
Hakim: Dalam menjatuhkan hukuman, saya mempertimbangkan bahwa terdakwa, tidak ada keraguan setelah menerima nasihat, telah sangat layak mengubah pembelaanya  pada satu kesalahan.

Mungkin bagi pengacara untuk tidak menemui kesulitan dalam membenarkan komentar dari para hakim di atas, meskipun orang lain mungkin menemukan logika perbedaan meyakinkan. Seorang awam mungkin bisa dimaafkan bila berpikir bahwa detektif yang bersangkutan telah melakukan pelayanan publik yang lebih besar dengan menghemat waktu bahkan lebih dari pembela. Jika pengurangan hukuman untuk pengakuan bersalah secara administratif dibutuhkan, mestinya dalam pandangan kita, dinyatakan  dengan sejelas  mungkin dan tidak disamarkan dalam permainan kata-kata  hukum yang dapat meyakinkan bagi pengacara tapi dipandang oleh orang lain tidak boleh dan penuh kemunafikan.

Sumber : Buku Criminal Justice.